rudy rushady blog’s

segala sesuatu yang lagi menarik hatiku

alam ajaran Jawa dikenal istilah “Sedulur pdpat kalima pancer”. Pancer adalah diri kita. Setiap diri manusia mempunyai empat saudara. Ketika manusia masih berupa janin di dalam perut ibunya, keempat saudara ini nyata. Kasat mata. Bisa dilihat dengan mata kepala. Dapat dilihat dengan mata telanjang. Lho, apa itu saudara empat? Marilah kita simak bait tembang Sunan Kalijaga berikut ini.
Ana kidung akadang premati among tuwuh ing kuwasanira nganakaken saciptane kakang kawah puniku
kang rumeksa ing awak mami anekakaken sedya pan kuwasanipun adhi ari-ari ika
kang mayungi ing laku kuwasaneki anekaken pangarah//
Ponang getih ing rahina wengi angrowangi Allah kang kuwasa
andadekaken karsane
puser kuwasanipun nguyu-uyu sambawa mami nuruti ing panedha kuwasanireku
jangkep kadang ingsun papat kalimane pancer wus dadi sawiji nunggal sawujudingwang//
Ada sabda tentang saudara kita yang merawat dengan sung­guh-sungguh. Yang memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu, yang menjaga badan saya. Yang menyampaikan kehendak, dengan kuasanya. Dinda ari-ari itu, yang memayungi semua tindakan berdasarkan ke­kuasaannya/ yang menyampaikan tujuan.
Sedangkan darah siang dan malam membantu Allah yang kuasa. Mewujudkan Kehendak-Nya. Pusar kekuasaannya, me­merhatikan sungguh-sungguh diriku, memenuhi permintaan­ku. Kekuasaannya itu. Maka, lengkaplah empat saudara saya, kelimanya sebagai pusat. Sudah menjadi satu. Manunggal de­ngan wujudku.
Dari kedua bait kidung itu, jelas sudah apa yang dinamakan saudara empat. Semuanya merupakan saudara kandung ketika manusia masih berupa janin. Mereka semua menjaga pertumbuhan manusia di dalam kandungan ibu. Anak yang pertama tentu saja kakak dari sang janin, yaitu ketuban atau kawah. Ketika seorang ibu melahirkan, yang pertama kali keluar adalah ketuban. Karena itu disebut saudara tua. Dia berfungsi sebagai penjaga badan sang janin di dalarn rahim.
Setelah itu, saudara sekandung yang lebih muda adalah ari-ari, tembuni atau plasenta. Pembungkus janin di dalam rahim. Dinyatakan bahwa ari-ari memayungi tindakan sang janin di dalam perut ibu. Yang menyampaikan ke tujuan. Begitu bayi lahir, maka ari-ari itu ikut ke luar. la mengantarkan sampai ke tujuan. Yaitu lahir dengan selamat disertai pengorbanan dirinya.
Nah, berikutnya adalah darah. Inipun saudara sang janin. Tanpa ada darah janin bukan saja tidak bisa tumbuh, tapi juga akan mengalami keguguran. Dalam kata-kata Sunan, darah disebut membantu Allah siang dan malam. Untuk mewujudkan kehendak Tuhan. Jangan salah pengertian, lho! Allah sendiri hakikatnya tidak memerlukan bantuan siapa pun. Ini dari segi hakikat. Tapi dari segi syariat, dari segi mekanisme alamnya, kehendak Allah untuk menumbuh-kem­bangkan janin hingga menjadi bayi itu dilewatkan darah. Seolah­olah darah itu nyawa bagi janin.
Saudara yang keempat adalah pusar. Jawa: puser atau urudel. Dalam bahasa Jawa Kuno, istilah untuk pusar adalah nabi. Yang dimaksudkan dengan pusar, tentu saja tall pusar. Sedangkan pusar sendiri sebenarnya hanyalah bekas menempelnya tali pusar pada perut. Ya, tali pusarlah yang menghubungkan antara perut bayi dalam rahim dan ari-ari. Ia sebagai slat untuk menyalurkan makanan dari ibu ke bayi dalam kandungan. Dengan tali pusar itu bayi mendapatkan pasokan makanan dari induknya. Pusar berfungsi untuk memenuhi permintaan si jabang bayi.
Umumnya orang menganggap bahwa ketuban, ari-ari, darah, dan tali pusar itu hanya wahana. Atau, alat yang diperlukan untuk per­tumbuhan jabang bayi di dalam perut. Begitu bayi dilahirkan, maka semua itu tak berfungsi lagi. Beres sudah jika bayi telah lahir. Tak ada sangkut-pautnya dengan kehidupan. Dan, yang demikian ini me­rupakan pandangan materialistik. Pandangan yang serba duniawi. Me­nurut pandangan ini apa yang bersifat spiritual itu tidak ada. Ajaran saudara empat juga tidak terdapat di Jazirah Arabia. Karena basis kepercayaan mereka sebelum kedatangan Islam, adalah pandangan dunia semata.
Lain dengan pandangan Jawa. Pandangan yang telah diterima orang Jawa yang beragama apa pun. Yang saya maksud, orang Jawa yang mengerti pandangan Jawa, meski beragama apa pun tetap me­mercayai bahwa dalam hidup di dunia ini saudara empat itu tetap menjaga balk masih di kandungan maupun di alam nyata. Yang kembali ke anasir-anasir bumf, air, udara, dan api hanyalah keempat jasadnya. Begitu bayi lahir, jasad saudara empat itu kembali ke asalnya. Air ketuban dan darah dibersihkan, begitu bayi dilahirkan. Ari-ari dan potongan tali pusar dipendam atau dihanyutkan di sungai. Jasad yang terlahir hidup adalah bayinya. Sedangkan secara metafisik saudara empat kita itu tetap menjaga kita hingga kita matt.
Apa pandangan Jawa itu bertentangan dengan ajaran Islam? Atau, pandangan Jawa itu tidak ada di dalam Islam? Yakinlah saudara, bahwa pandangan tersebut ada di dalam Alquran. Alias, ada di dalam Islam. Cuma, kita yang beragama Islam kurang mau memerhatikan ayat-ayat yang bernuansa metafisik. Kita lebih mudah terjebak ayat­ayat yang bersifat lahiriah. Coba, kita perhatikan ayat “In kullu nafsin lammd ‘alayha hr2fzzh, setiap dirt niscaya ada penjaganya.”‘ Atau, yang ada pada ayat lainnya: “Wa huwa al-qahir fawq abddih wa yursil
`alaykum hafazhah hattd id,za jd’a ahadakum al-mawt tawaffathu ru­sulund wa hum Id yufarrithun.’2
Dialah yang bcrkttasa atas semua hamba-Nya. Dan Dia mengutus kepada kalian penjaga-penjaga untuk melindungimu. Jika seseorang su­dah waktunya mati, maka utusan-utusan Kami itu mewafatkannya tanpa
keliru.

Santet, teluh, sihir atau apapun namanya
> adalah energi negatif
> > yang mampu merusak kehidupan seseorang :
> berupa terkena penyakit,
> > kehancuran rumah tangga hingga sampai dengan
> kematian. Berbagai
> > penyelidikan pun telah banyak dilakukan
> ilmuwan terhadap fenomena
> > santet dan sejenisnya. Tentu metode penelitian
> para ilmuwan agak
> > berbeda dengan agamawan.
> >
> > Jika para agamawan memakai rujukan dalil2
> kitab suci (ayat
> > kitabiyah), maka para ilmuwan menggunakan ayat
> kauniyah (alam
> > semesta) untuk menyelidiki santet ini.
> Penyelidikan menggunakan
> > ayat kauniyah tentunya harus memiliki metode
> yang sifatnya ilmiah,
> > mulai dari mencari kasus2 santet, tipe2
> santet, gejala, akibat
> > dlsb. Lalu kemudian dilakukan berbagai
> eksperimen untuk
> > penyembuhannya.
> >

Bisnis yang dimulai dengan kegagalan bisa membawa kesuksesan yang tidak
disangka-sangka. Seperti yang dialami oleh Clarence A. Crane, pebisnis permen
coklat yang suatu ketika harus memutar otak karena omzet bisnisnya menurun
setiap musim panas karena coklat menjadi mudah meleleh.

Akhirnya Crane memutuskan untuk membuat dan menjual permen mint padat. Untuk
mencetaknya, ia menyewa seorang pembuat pil lokal untuk membuat permen mint
menjadi padat. Karena kesalahan mesin, permen yang dihasilkan ternyata tidak
berbentuk bundar padat seperti yang diinginkan, melainkan berlubang di tengah
seperti cincin.

Melihat permen gagal itu, Crane tidak begitu saja langsung membuangnya. Ia malah
menjual permen cincin itu dengan nama “Life Savers”. Hasilnya? Produknya menjadi
permen cincin pertama dan paling sukses di dunia.

Sejak pertama kali muncul di tahun 1912 sampai tahun 1980, permen paling laris
di dunia ini diperkirakan telah terjual sebanyak 30 milyar keping, yang bila
dijejerkan panjangnya sama dengan rute bumi - bulan hingga 3 kali

Murtad
Murtad! Dakwaan sungguh dahsyat. Tobat! Tuntutan tanpa debat. Pilih satu mati,
pilih lain hidup. Tiada kompromi. Murtad atau tobat. Neraka atau surga. Tanpa
jalan tengah. Tiada jembatan di antaranya. Begitulah agama-agama eksklusif asal
Timur Tengah bikin garis pembelah kemanusiaan.

Berabad-abad garis ini membagi manusia dalam kelompok-kelompok yang kadang hidup
berdampingan dalam keadaan kurang lebih damai, lebih sering dalam permusuhan dan
pertentangan. Yang jelas, selalu dalam kesadaran dikotomi orang dalam-orang
luar, kami-kamu. Baik murtad maupun tobat berarti berputar balik. Mengapa yang
satu disebut murtad yang lain tobat tidak bergantung pada tindakan orang yang
berputar balik itu, melainkan pada orang yang menilai.

Kalau orang yang sebelumnya berjalan bersama saya berbalik arah membelakangi
saya, dia saya sebut murtad, berubah jadi kamu. Kalau dia yang sebelumnya
berjalan bertentangan dengan saya berputar ke arah yang saya tuju, dia saya
sebut tobat, masuk jadi kelompok kami. Acuan adalah aku. Karena agamaku itulah
yang benar, orang yang meninggalkan agamaku murtad, yang masuk agamaku tobat.
Murtad akibat sesat dihasut. Tobat akibat sadar tawakal. Si murtad durhaka
jahat. Si tobat saleh taat.
Tobat punya makna lebih luas daripada sebagai antonim murtad. Karena berbalik
kepada agamaku yang benar itu baik adanya, tobat pun bisa berarti berbalik dari
perbuatan jahat ke kelakuan baik, insaf.
Murtad pun bisa dipakai bukan dalam rangka agama. Orang bisa murtad terhadap
tradisi, kebiasaan, adat. Yang menarik, biasanya kata ini baru dipakai bila
orang yang dianggap murtad tak melakukan hal yang merugikan atau menyusahkan
orang lain. Seorang perampas nyawa atau harta, murtad atau tidak, akan disebut
pembunuh atau perampok, lantas berlandaskan itu dihukum. Justru orang yang tak
melakukan kejahatan atau menghasut orang berbuat jahat, tapi dianggap berkhianat
terhadap keyakinan kelompok, diberi cap murtad, agar ada alasan menyakitinya,
disingkirkan dari pergaulan sampai dari muka bumi.
Orang murtad biasanya tak dianggap berpindah agama karena pilihannya sendiri
sebagai orang dewasa mandiri, melainkan menjadi korban pemurtadan. Konsep
pemurtadan sangat defensif dan khas. Bahasa Inggris, misalnya, tak mengenal
bentukan apostasy (dari kata Yunani/Latin apostasia: hal menyingkir) dengan
makna ini. Ada apostatizing yang kadang dipakai untuk menerjemahkan pemurtadan.
Ini tidak tepat sebab apostatizing mengacu pada tindakan menyingkirkan atau
memurtadkan diri sendiri, bukan memurtadkan orang lain.
Yang biasa jadi perdebatan: bolehkah menyebarkan agama kepada orang lain? Pada
dasarnya jawaban ideal: kalau golongan saya mau mempertobatkan orang lain,
boleh; kalau golongan lain ingin memurtadkan anggota kelompok saya, larang.
Tersamar di sini adalah pertanyaan yang lebih prinsip mengenai hak asasi
orang—mengapa orang seorang yang merdeka, waras, dan mandiri tak boleh murtad
atau tobat menurut kehendak dan pilihan sendiri? Mengapa keyakinan iman seorang
dewasa yang berakal budi harus dikontrol orangtuanya, komunitasnya, bahkan
sampai dengan taruhan nyawa?

SAMSUDIN BERLIAN Pengamat Bahasa

Skenario di Balik `Penobatan’ Munarman Sebagai Pahlawan Oleh
Pemerintah RI

Luar biasa !!! seolah Hitler dengan mottonya “kebohongan yang
diulang ribuan kali akan menjadi kebenaran” hidup kembali di bumi
pertiwi. Hebatnya lagi, pemerintah mendukung secara terang-
terangan. `Penobatan’ Munarman sebagai pahlawan oleh menteri agama
beserta dua menteri lainnya sungguh telah mengkhianati bumi pertiwi
melalui pengeluaran SKB Ahmadiyah. Drama kekalahan negara oleh
sekelompok kecil orang-orang radikal seolah tidak mau kalah
menyaingi pentas sinetron Indonesia. Momen yang kemudian
dimanfaatkan oleh Munarman secara licin sehingga terbentuk image
bahwa dikarenakan perjuangannyalah SKB bisa dikeluarkan. Dari
kejadian pengeluaran SKB Ahmadiyah, secara tidak langsung aksi
kekerasan mendapat legitimasi melalui SKB ini. Opini masyarakat
dibentuk dengan sukses bahwa kekerasan yang terjadi di Monas adalah
karena ahmadiyah dan sudah sepantasnya pemerintah segera
mengeluarkan SKB. Ini akan menjadi preseden buruk bagi negara. Suatu
saat, dikala FPI dan antek-anteknya kembali ingin mendesakkan satu
kebijakan dan tidak diikuti oleh pemerintah, maka siap-siap darah
anak bangsa akan kembali tumpah ruah tanpa pandang bulu pria,
wanita, anak kecil, orang tua, islam kristen, hindu, budha,
konghucu, jawa, bali, sunda,sulawesi, papua. Toh terbukti strategi
ini sangat berhasil dan begitu mudah membentuk opini masyrarakat
atas dasar militansi keberagamaan yang sebenarnya sedang
dimanfaatkan oleh pihak tertentu.

Sekarang Ahmadiyah yang menjadi alasan. Besok-besok bisa saja
kelompok radikal ini memaksa pemerintah untuk mengganti dasar negara
Pancasila. Bukan hal yang tidak mungkin karena wacana ini sudah
mulai ramai di kalangan grass root. Jika tidak dipenuhi, mereka akan
kembali melakukan aksi penumpahan darah dan kemudian membangun
berbagai alasan bahwa kekerasan itu halal dilakukan dengan berbagai
alasan dengan memutarbalikkan fakta dan logika masyarakat dibumbui
dengan ayat-ayat qur’an sehingga masyarakat justru akan menyalahkan
korban seperti yang terjadi saat ini. Persis seperti strategi Hitler
di zaman NAZI dahulu dan juga seperti yang terjadi di Arab ketika
perempuan diperkosa maka yang disalahkan dan dihukum korban
perkosaannya, ANEH BIN AJAIB. Dan lebih mungkin lagi bahkan mereka
bisa memaksa pembubaran NKRI dengan dalih pembentukan negara islam
dan penegakan syariah. Apabila ini terjadi, akan terlihat sudah
siapa yang akan bertepuk tangan. Mereka yang sudah mengkapling
masing-masing pulau Indonesia yang kaya raya alamnya jika NKRI bubar
dan yang tertinggal adalah negara-negara kepulauan. Ketahuan pula
siapa yang akan bertambah kekayaannya dan siapa pula yang akan
semakin melarat dengan bubarnya NKRI.

Yang pasti, skenario dibalik keberanian FPI menyerang di siang
bolong di pusat negara terkuak sudah. Satu roman picisan yang yang
telah mengkhianati hati nurani anak bangsa. Bagaimana seorang
munarman bisa mendapat inspirasi yang begitu hebat melalui aksi
penyembunyian dirinya dan penyebaran videonya jika tidak
direncanakan sebelumnya ? Seolah-olah Munarman sudah tahu bahwa SKB
pasti akan keluar. Dan bagaimana pula negara yang berisi lebih dari
200 juta orang kalah oleh satu orang ? Mungkin munarman dan
pemerintah atau pihak di balik layar bisa bertepuk tangan saat ini.
Tapi jangan lupa, tangan dan kakimu akan bersaksi atas apa yang
telah kalian lakukan. Hukum sebab akibat akan tetap berlaku, dan
barang siapa yang melihat kezaliman dan mengetahui kebenaran tetap
diam maka tunggulah saatnya kalian akan melihat bagaimana kebenaran
akan mengungkapkan dirinya sendiri. Saat yang akan disesali oleh
mereka yang selama ini berdiam diri dibalik kenyamannya. Sekarang
mungkin Anda belum kena dampaknya tapi suatu saat mungkin Anda atau
keluarga Anda yang menjadi korban kekerasan kelompok radikal ini.
Buat FPI dan kroninya, tidak pernah ada dalam sejarah kekerasan akan
bertahan lama apalagi di era teknologi saat ini. Bagi mereka yang
ingin membubarkan NKRI, Pancasila akan kembali menunjukkan
kesaktiannya. Tidak akan kami biarkan tanah ini kembali dijajah oleh
orang-orang yang hanya ingin mencari keuntungan bagi beberapa
keluarga saja dan membiarkan ratusan juta penduduk Indonesia
menderita. Suatu saat bahkan anggota FPI dan antek-anteknya yang
sesungguhnya tidak mengerti bahwa mereka hanya digunakan oleh tangan-
tangan tertentu akan menyadarinya. Dan, bagi seluruh saudaraku yang
berjuang dalam Kasih, saatnya kita meningkatkan rasa cinta di dalam
hati kita. Mari kita lupakan barrier pribadi diantara kita. Lupakan
segala konflik yang ada dalam diri kita. Saatnya kita memperkuat
mandala kita dengan cinta kasih karena saya percaya bahwa Cinta
adalah Solusi bukan hanya sekedar jargon tapi benar-benar senjata
yang paling ampuh.